Obrolan Santai

KETUKAR SENDAL

Ketukar sandal

Coba perhatikan foto disamping, serupa tapi tak sama ya..sama-sama hitam, ukuran sama tapi model dan mereknya beda.

 

Eit, jangan buru-buru nyangka pengalaman saya..ini sih kisah salah satu pengurus yang sandalnya ketuker saat di masjid..ya, bisa dibilang kisah memilukan kalau bukan disebut tragis (lebay deh..he)..

 

Ya, mungkin Anda yang pernah mengalami ikut cengar-cengir sambil bergumam ini sih gue banget!

Kisah aneh tapi nyata seperti ini kadang berulang di masjid-masjid, apakah sepulang musyawaroh, sepulang pengajian, apalagi kalau bubar ngajinya malam…entah karena ngantuk atau ngelamun atau apalah namanya, yang jelas kejadian ini bikin orang lain kelabakan kokotetengan (bolak-balik mencari-cari, red) karena harus nyari temennya si sendal kesayangan. Si empunya sandal mau ngambil sandal yang ada di situ takut ada yang punya dan menyusahkan orang lain (yang ketukar sandal masih punya perasaan), mau nyeker juga malu, mau beli sayang, mana buru-buru lagi mau ada tugas lain untuk “amal sholih” di tempat lain…kacian deh, nasib-nasib….berpisah sementara dengan sandal kesayangan yang mungkin cuma sepasang-sepasangnya..

Kabar baiknya Alhamdulillahnya akhirnya ada “seseorang yang tidak mau disebut namanya” yang mau meminjamkan sandalnya dan mau memakai sandal “”jadi-jadian” untuk ditukar pakai sementara.

Kisah ini just share bukan untuk membesar-besarkan kasus yang mungkin Anda anggap sepele, cuma kadang heran saja, masa sih ada yang tidak hafal dengan sandalnya sendiri? paling tidak kenyamanan waktu memakainya lain khan kalau bukan punya sendiri, harusnya ada yang aneh khan kalau bukan sandalnya sendiri…? tapi ya itu tadi, ini benar-benar real terjadi. yah namanya juga manusia, ada khilafnya.. “kullu bani Adam khothoun..” Yang jelas bukan faktor kesengajaan..

 

Kisah di atas sih masih mending karena akhirnya “happy ending” sandalnya kembali dalam keadaan utuh setelah yang tanpa sengaja ketuker sandalnya menyadari sepenuhnya salah ambil sandal dan mengembalikannya ke tempat semula beberapa hari kemudian.

Ada kisah-kisah lain tentang sepasang sandal/sepatu di parkir di masjid yaitu kisah raibnya sang sandal/sepatu dan tidak kembali lagi seperti kisah di atas. Nah, kalau ini mungkin orang yang pinjam sementara tapi tidak mengembalikan lagi karena sudah tahu enaknya sandal/sepatu tersebut jadi keterusan deh, atau malah sengaja mengambil sandal orang lain dituker dengan beras (ini mah niat banget), atau mungkin saat mendengar nasehat pas ngantuk sehingga salah menginterpretasikan isi nasehat tersebut..kata ak Ustadz “candak nu saena piceun nu awonna” maknane : ambil yang baiknya buang yang jeleknya“, tapi ini khan tidak termasuk urusan sandal ya..dari rumah bawa yang jelek, pulang bawa yang bagus…he, bercanda boss..

Yang pernah dialami penulis dan temen penulis adalah “Allah beserta persangkaan kita”..kadang ada terbersit “aman nggak ya saya ninggalin disini, jangan-jangan ada yang ngambil..” eeh, bener aja raib tuh sang sendal..makanya memang kita harus selalu husnudzon billah dan pasrah..

Kadang urusan sandal juga bikin tidak rukun dan jadi dosa mendosakan, contohnya kitamau wudlu kemudian pinjem sandal orang lain tanpa izin kepada yang punya, asal pake aja..eh, tahunya yang punya sandal mau pakai dan buru-buru mau pergi, khan jadi bete tuh yang punya sandal, mungkin terlontar sumpah serapah, apalagi sandal itu sebenarnya bukan “sandal amphibi” yang bisa dipakai ke air, yang punya sudah apik-apik jangan kena air, eh malah dibasahin oleh kita..orang tega macam apa kita ini..?!

Zaman Rasululloh pernah terjadi nggak ya acara ketuker atau hilang sendal? rasanya belum keceritain ya dalam hadits..Yang jelas Rasul mengajarkan dan mencontohkan kepada kita berakhlaq yang baik (akhlaq Rosul seperti di Firmankan Allah SWT : ‘innaka la’ala khuluqin adzim”) dan kita sepakat termasuk urusan tata krama pinjam meminjam sandal bukan?, lha wong cara memakai sandal/alas kaki saja ada tata kramanya yaitu duduk dulu baru kita pakai alas kaki tersebut. Apalagi meminjam yang bukan haknya walaupun mungkin dianggap sepele urusan pinjam sandal..

Sebagai warga LDII, dinasehati bahwa salah satu syarat kerukunan adalah saling menjaga perasaan, tidak merusak/merugikan orang lain baik diri,harta maupun martabatnya…

Mudah-mudahan ada yang bisa diambil manfaatnya…aamiin

Walloohu a’lam…..

 

 


2 Comments

  1. Comment by Teguh:

    assalaamu’alaikum.

    @ Moderator LDII Jabar Ysh.

    maaf mau sedikit mengoreksi tulisan terakhir ini: “Allaahu warosuuluhu a’lam…..”.

    Memang ini adalah ucapan yg masyur tercetus dari mulut para sahabat yg mempersaksikan bhw Alloh dan Rosul lebih tahu mengenai perkara yg sedang mereka hadapi. Ucapan ini banyak tertulis di hadits2 yg selama ini kita pelajari, Tetapi yg perlu diketahui, mereka (para sahabat) menyebut kalimat itu tatkala Rosul masih ada di hadapan mereka (masih hidup).

    NAH pada saat Nabiyulloh SAW telah wafat, ucapan ini seharus-nya berubah menjadi “Wallohu A’lam” saja. Karena Alloh SWT adalah zat yang tak pernah wafat, sedangkan Rosul SAW adalah manusia yg telah diwafatkan olehNya.

    Maka agar tidak terkena syubhat, apalagi perilaku syirik (terutama syirik samar yg kita tidak tahu), ada baiknya kalimat terakhir itu diganti.

    Jazakallohu khoiro.

    • Comment by admin:

      wa alaikum salam wrwb…@pak teguh ysh, sesuai sarannya yg baik (terutama untuk menjauhkan dari perilaku syirik khoufi maupun terkena subhat) kami ralat kata “Allaahu warosuuluhu a’lam” dengan “Wallohu a’lam”….
      Maksud penulis adalah bahwa nasehat/pengingat kisah yg diceritakan tsb tersebut berasal dari Alloh dan Rosul (tanpa berniat menyekutukan Alloh SWT)…awalnya juga penulis mau menulis “Wallohu a’lam” saja…yaa, itu tadi..”kullu bani Adam khothoun…” dan keterbatasan pengetahuan penulis.

      Jazaakalloohu khoiro juga atas masukannya yang berharga.

  1. Ping from KISAH KETUKAR SENDAL | LDII-Online - Lembaga Dakwah Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*